Oleh: orangtuabijak | 1 Juli, 2009

Renungan

Ketika aku masih muda dan bebas,

Imajinasi tidak terbatas,

Aku bermimpi mengubah dunia…

Lalu, pada saat aku semakin dewasa dan lebih bijaksana,

Aku menemukan bahwa dunia tidak mau berubah,

Maka, akupun merendahkan jangkauanku dan memutuskan untuk mengubah negaraku saja,

Tapi, kelihatannya hal ini terlalu berat…

Saat aku memasuki usia senja,

Dalam satu upayaku yang terakhir,

Aku bertekad untuk mengubah keluargaku,

Yaitu orang-orang terdekat denganku, namun,

Sedikitpun mereka tidak mau berubah…

Dan kini, saat aku terbaring di ranjang kematianku,

Tiba-tiba aku tersadar,

Kalau saja aku lebih dahulu mengubah diri sendiri,

Maka, dengan contoh itu mungkin aku bisa mengubah keluargaku,

Lalu, dari inspirasi dan dorongan mereka,

Tentu aku akan mampu mengubah negaraku lebih baik,

Dan siapa tahu,

Aku mungkin bisa mengubah dunia…

(Westminster Abbey, 1100)

Oleh: orangtuabijak | 30 Juni, 2009

Kenali Gaya Belajar Anak Anda (bagian 2)

Classroom%20KidsAda 5 Aspek Yang Mempengaruhi Gaya Belajar :

1. Disposisi

Yaitu apa yang bisa dilihat dari luar oleh orang lain pada diri kita (atau apa yang bisa kita lihat ada pada anak kita sejak dia lahir). Ada 5 disposisi yang perlu kita tahu :

Disposisi 1 : PERFORMS

Disposisi 2 : PRODUCE

Disposisi 3 : INVENTS

Disposisi 4 : RELATE/INSPIRE

Disposisi 5 : THINK/CREATE

2. Bakat

Ada kurang lebih 12 macam bakat yang sering kita jumpai yaitu :

  • Music
  • Math-logic
  • Mechanical reasoning
  • Word-language reasoning
  • Spatial
  • Body Coordination
  • Interactive-self
  • Interactive-others
  • Interactive-animals
  • Interactive-nature
  • Humor
  • Life enhancement.

3. Minat

Ini berbeda dengan bakat biarpun banyak yang salah duga. Misalnya : anak yang suka menyanyi belum tentu berbakat menjadi penyanyi. Minat yang dimiliki anak bisa pada bidang-bidang tertentu (ini sebabnya dianggap sama dengan bakat), misalnya olahraga, musik, dsb; tetapi juga interest anak yang melibatkan dia aktif di komunitas tempat dia berada baik di sekolah, rumah, dsb. Banyak orang tua yang buru-buru mengkursuskan anaknya karena dianggap berbakat pada bidang tertentu, padahal dia hanya pada tahap interest saja. Maka jangan heran jika tiba-tiba si anak tidak mood lagi ikut kursus padahal awalnya suka sekali dan tampak menikmatinya.

4. Modalitas

Adalah cara terbaik seorang anak untuk memproses informasi. Banyak orang mengira modalitas sama dengan gaya belajar, padahal modalitas hanyalah salah satu aspek yang mempengaruhi gaya belajar saja. Disini dibedakan antara :

  • Auditory (baik mendengar maupun bicara),
  • Visual (gambar atau tulisan),
  • TactileKinesthetic (sentuhan, sketsa, gerakan tubuh dan menulis).

5. Lingkungan

Kondisi lingkungan yang paling disukai anak yang membuat dia bisa belajar lebih baik. Terdiri dari :

  • Suara (ramai/tenang)
  • Posisi (berdiri, duduk di kursi, tiduran, dsb)
  • Interaksi (harus ada orang, dengan hewan kesayangan, sendiri, dsb)
  • Cahaya (suka belajar di luar dengan cahaya natural matahari, atau cahaya lampu tertentu, harus terang atau redup, dsb)
  • Makanan (suka ngemil ditengah-tengah belajar, harus dalam keadaan kenyang atau tak harus sudah makan saat belajar, dsb)
  • Warna (warna favorit membuat si anak makin semangat belajar)
  • Waktu (ada anak yang lebih bisa konsentrasi belajar di malam hari, ada yang di pagi hari, dsb).
  • Suhu (dingin atau panas), dsb

Dari kelima aspek tersebut bisa anda perhatikan bahwa setiap aspek ada hal-hal yang lebih mendetil yang mempengaruhi gaya belajar anak anda. Sebagai contoh, anak yang hanya bisa berkonsentrasi belajar di tempat yang sepi, akan kesulitan belajar di kelas yang teman-temannya suka bicara. Anak yang punya tipe modalitas Auditory akan kesulitan memahami suatu persoalan, sebelum dia membacanya keras-keras. Pernah ingat salah satu teman anda yang suka belajar sambil membaca keras-keras ? Mungkin anda akan terganggu oleh keberisikan dia, dan anda punya gaya belajar yang berbeda karena anda hanya bisa konsentrasi saat semuanya tenang dan sepi. Bayangkan jika semua anak dengan berbagai keunikan belajarnya harus belajar dengan cara yang sama di kelas yang sama. Wajar jika hanya kurang lebih 3 dari 35 murid di satu kelas, yang selalu mendapat ranking tinggi. Mereka adalah tipe pelajar yang memiliki tipe disposisi jenis Produce dan Modalitas-nya pada auditory, krn inilah cara mengajar yang diajarkan di sekolah pada umumnya. Sebaliknya anak-anak yang memiliki disposisi model Perform, membutuhkan banyak gerak; dia akan mendapat nilai tinggi pada saat jam olahraga, anak yang bertipe Invent akan mudah belajar di laboratorium.

Oleh: orangtuabijak | 30 Juni, 2009

Kenali Gaya Belajar Anak Anda (bagian 1)

kids_classroomTahukah anda bahwa pendidikan di sekolah kebanyakan hanya diperuntukkan pada gaya belajar tertentu saja ? Anak-anak yang mempunyai gaya belajar yang berbeda dengan standard di sekolah, bisa dicap bodoh, gak perhatian, gak kreatif, dan berbagai cap negatif lainnya. Masalahnya jika si anak tahu bahwa orang lain menganggap dia begitu (negatif), besar kemungkinan si anak menjadi tak percaya diri dan akan terbawa oleh cap negatif itu hingga tumbuh kelak.

Jika anda pernah menonton Bowling For Columbine yang disutradarai oleh Michael Moore, disana terdapat cuplikan yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan di USA mengatakan  jika si anak gagal di sekolah, akan gagal seumur hidupnya. Ini hanya satu contoh, karena sistem pendidikan di seluruh dunia hampir punya standard yang sama. Nah, anak-anak yang sudah di cap “gagal” akhirnya drop-out dari sekolah dan menjadi pengacau. Repotnya lagi, anak-anak tertentu yang mempunyai disposisi ingin mencari perhatian (Performing disposition-insya Allah akan dijelaskan lebih lanjut), lalu mendapat akses kemudahan mendapatkan senjata berapi seperti yang berada di negara bagian tempat kota kecil Columbine berada, akhirnya melakukan tindakan diluar akal manusia normal. Maka tidaklah mengagetkan jika terjadi tragedi berdarah di suatu sekolah Columbine, USA pada tahun 1994. Sekelompok anak yang menjadi anggota sebuah gang, masuk ke sekolah tersebut sambil menyembunyikan senjata berapinya di jas panjanganya, lalu dengan sembarangan menembakkan 900 peluru ke seluruh penjuru kafetaria pada jam makan siang.

Anak-anak muda ini merasa bahwa toh hidup  mereka sudah dicap bakal gagal sejak mereka masih sekolah, maka mereka tak merasa bersalah jika kelak masuk penjara karena membunuh sekenanya. Sebuah “bunuh diri” akibat merasa “gagal seumur hidup” karena kegagalan saat dulunya masih sekolah.

Intinya, hanya karena gaya belajar si anak tidak sesuai dengan gaya belajar yang diajarkan di sekolah, anak-anak bisa menjadi tak percaya diri dan  jika mendapat pengaruh negatif (baik dari pergaulan, apalagi ada sarana menjadi negatif), anak-anak yang tersebut bisa membuat masyarakat sekitarnya rugi sendiri.

Alangkah baiknya jika kita mencoba merubah paradigma kita, bahwa jika anak-anak tidak “sukses” di sekolah, mereka tetap bisa sukses dalam hidupnya, sesuai jalannya masing-masing. Langkah awal untuk merubah paradigma ini adalah mencoba mengenali beberapa hal yang mempengaruhi gaya belajar anak. Percayalah, anda akan menilai gaya belajar diri anda sendiri, baik saat masih sekolah dulu hingga sekarang. Dengan mengenali gaya belajar yang berbeda-beda, kita bisa memahami dan akan lebih mudah berkomunikasi serta menjalin silaturrahmi dengan orang yang berbeda dengan kita, tanpa merasa ada yang aneh atau berbeda pada diri orang lain. Bukankah Rasulullah SAW menyuruh kita untuk tetap belajar apapun dari buaian ibu hingga nyawa sampai di kerongkongan ? Maka tidak ada salahnya mengenal gaya belajar yang berbeda, baik untuk anak kita maupun untuk kita sendiri (apalagi yang belum punya anak).

Bersambung….

Oleh: orangtuabijak | 13 Oktober, 2008

Sekolah Binatang

Terbetiklah Kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang.  Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para bintang besar itu memutuskan untuk menciptakan sebuah sekolah memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Anehnya mereka tidak menemukan kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti kurikulum yang sama. Jadi setiap murid harus ikut mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Sang rusa yang ahli berlari, hampir tenggelam saat mengikuti mata pelajaran berenang. Pengalaman mengikuti mata pelajaran berenang sangat membuat batinnya terguncang, dia merasa seperti tidak punya potensi lagi. Lama-kelamaan, karena sibuk mengurusi pelajaran berenang, dan harus mengikuti les tambahan berenang, si rusa pun tidak lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Karena dia sudah mulai jarang melatih keahlian alaminya itu.

Kemudian ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah binatang tersebut. Karakter burung elang yang sangat pandai terbang, ketika mengikuti mata pelajaran menggali, tidak mampu menjalani tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Dan akhirnya, ia juga harus mengikuti les tambahan menggali. Les itu banyak menyita waktunya, sehingga ia melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.

Demikianlah kesulitan demi kesulitan melanda juga binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, ular dll. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahliannnya masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat-sifat asli mereka.

Oleh: orangtuabijak | 13 Oktober, 2008

Penganiayaan Terhadap Anak Dalam Keluarga

(Dari makalah Alva Nadia: disampaikan pada Seminar Online Kharisma ke-3, dengan Tema: ‘Kekerasan Pada Anak: Efek Psikis, Fisik, dan Tinjauan Agama, Dunia Maya, 13-19 September 2004)

Setiap kali kita mendengar kata penganiayaan, mungkin yang sering terbetik dalam benak kita adalah tindakan-tindakan kasar yang mencelakakan anak, caci maki, dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak. Pada kenyataannya,penganiayaan pada anak-anak tidak hanya sebatas itu dan tanpa disadari banyak dilakukan oleh orangtua atau pengasuh. Dari hasil riset yang dilakukan oleh Mitra Perempuan Women´s Crisis Centre, sebuah lembaga pendampingan bagi perempuan dan anak-anak yang mengalami kekerasan terutama dalam rumah tangga, menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengalami penganiayaan meningkat dari tahun ke tahun dengan bentuk-bentuk penyiksaan fisik dan seksual. Begitu pula dengan investigasi yang dilakukan oleh Child Protective Service bahwa pada tahun 2001ditemukan 3,25 juta anak yang mengalami penganiayaan dan pengabaian di Amerika Serikat. Sebuah peningkatan 2% dari tahun sebelumnya. Pengabaian adalah hal yang paling banyak terjadi, yaitu sebanyak 63 %, 19% penyiksaan fisik, 10% penyiksaan (dan pelecehan) seksual, 8% penyiksaan emosi.Dari hasil pengamatannya Hurlock (1990) menemukan bahwa penganiayaan ini berlangsung sejak bayi, berlanjut pada masa kanak-kanak, hingga masa remaja.

Apakah penganiayaan terhadap anak?

Ada beberapa situasi yang menyulitkan orang tua dalam menghadapi anak sehingga tanpa disadari mengatakan atau melakukan sesuatu yang tanpa disadari dapat membahayakan atau melukai anak, biasanya tanpa alasan yang jelas. Kejadian seperti inilah yang disebut penganiayaan terhadap anak. Dalam beberapa laporan penelitian, penganiayaan terhadap anak dapat meliputi: penyiksaan fisik, penyiksaan emosi, pelecehan seksual, dan pengabaian. Faktor-faktor yang mendukung terjadinya penganiayaan terhadap anak antara lain  immaturitas/ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua, harapan yang tidak realistis terhadap kemampuan dan perilaku anak, pengalaman negatif masa kecil dari orang tua, isolasi sosial, problem rumah tangga, serta problem obat-obat terlarang dan alkohol. Ada juga orang tua yang tidak menyukai peran sebagai orang tua sehingga terlibat pertentangan dengan pasangan dan tanpa menyadari bayi/anak menjadi sasaran amarah dan kebencian.

Penyiksaan fisik

Segala bentuk penyiksaan fisik terjadi ketika orang tua frustrasi atau marah, kemudian melakukan tindakan-tindakan agresif secara fisik, dapat berupacubitan, pukulan, tendangan, menyulut dengan rokok, membakar, dan tindakantindakan lain yang dapat membahayakan anak. Sangat sulit dibayangkan bagaimana orang tua dapat melukai anaknya. Sering kali penyiksaan fisik adalah hasil dari hukuman fisik yang bertujuan menegakkan disiplin, yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyak orang tua ingin menjadi orang tua yang baik, tapi lepas kendali dalam mengatasi perilaku sang anak.

Efek dari penyiksaan fisik

Penyiksaan yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, dan meninggalkan bekas baik fisik maupun psikis, anak menjadi menarik diri, merasa tidak aman, sukar mengembangkan trust kepada orang lain, perilaku merusak, dll. Dan bila kejadian berulang ini terjadi maka proses recovery-nya membutuhkan waktu yang lebih lama pula.

Penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi adalah semua tindakan merendahkan atau meremehkan orang lain. Jika hal ini menjadi pola perilaku maka akan mengganggu proses perkembangan anak selanjutnya. Hal ini dikarenakan konsep diri anak terganggu, selanjutnya anak merasa tidak berharga untuk dicintai dan dikasihi. Anak yang terus menerus dipermalukan, dihina, diancam atau ditolak akan menimbulkan penderitaan yang tidak kalah hebatnya dari penderitaan fisik. Bayi yang menderita deprivasi (kekurangan) kebutuhan dasar emosional, meskipun secara fisik terpelihara dengan baik, biasanya tidak bisa bertahan hidup. Deprivasi emosional tahap awal akan menjadikan bayi tumbuh dalam kecemasan dan rasa tidak aman, dimana bayi lambat perkembangannya, atau akhirnya mempunyai rasa percaya diri yang rendah. Jenis-jenis penyiksaan emosi adalah:

  • Penolakan. Orang tua mengatakan kepada anak bahwa dia tidakdiinginkan, mengusir anak, atau memanggil anak dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Kadang anak menjadi kambing hitam segala problem yang ada dalam keluarga.
  • Tidak diperhatikan. Orang tua yang mempunyai masalah emosional biasanya tidak dapat merespon kebutuhan anak-anak mereka. Orang tua jenis ini mengalami problem kelekatan dengan anak. Mereka menunjukkan sikap tidak tertarik pada anak, sukar memberi kasih sayang, atau bahkan tidak menyadari akan kehadiran anaknya. Banyak orang tua yang secara fisik selalu ada disamping anak, tetapi secara emosi sama sekali tidak memenuhi kebutuhan emosional anak.
  • Ancaman. Orang tua mengkritik, menghukum atau bahkan mengancam anak. Dalam jangka panjang keadaan ini mengakibatkan anak terlambat perkembangannya, atau bahkan terancam kematian.
  • Isolasi. Bentuknya dapat berupa orang tua tidak mengijinkan anak mengikuti kegiatan bersama teman sebayanya, atau bayi dibiarkan dalam kamarnya sehingga kurang mendapat stimulasi dari lingkungan, anak dikurung atau dilarang makan sesuatu sampai waktu tertentu.
  • Membiarkan anak terlibat penyalahgunaan obat dan alkohol, berlakukejam terhadap binatang, melihat tayangan porno, atau terlibat dalam tindak kejahatan seperti mencuri, berjudi, berbohong, dan sebagainya. Untuk anak yang lebih kecil, membiarkannya menonton adegan-adegan kekerasan dan tidak masuk akal di televisi termasuk juga dalam kategori penyiksaan emosi (Alva Nadia, dkk, 1991).

Efek dari penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Dengan begitu, usaha untuk menghentikannya juga tidak mudah. Jenis penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak seperti tiba-tiba membakar barang atau bertindak kejam terhadap binatang, beberapa melakukan agresi, menarik diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

Pelecehan seksual

Sampai saat ini tidaklah mudah membicarakan hal ini, atau untuk menyadarkan masyarakat bahwa pelecehan seksual pada setiap usia – termasuk bayi – mempunyai angka yang sangat tinggi. Bahkan Hopper (2004) mengemukakan bahwa hal ini terjadi setiap hari di Amerika Serikat. Pelecehan seksual pada anak adalah kondisi dimana anak terlibat dalam aktivitas seksual dimana anak sama sekali tidak menyadari, dan tidak mampu mengkomunikasikannya, atau bahkan tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Semua tindakan yang melibatkan anak dalam kesenangan seksual masuk dalam kategori ini:

  • Pelecehan seksual tanpa sentuhan. Termasuk di dalamnya jika anak melihat pornografi, atau exhibitionisme, dsb.
  • Pelecehan seksual dengan sentuhan. Semua tindakan anak menyentuh organ seksual orang dewasa termasuk dalam kategori ini. Atau adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan benda apapun yang tidak mempunyai tujuan medis.
  • Eksploitasi seksual. Meliputi semua tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi, atau menggunakan anak sebagai model foto atau film porno.

Ada beberapa indikasi yang patut kita perhatikan berkaitan dengan pelecehan seksual yang mungkin menimpa anak seperti keluhan sakit atau gatal pada vagina anak, kesulitan duduk atau berjalan, atau menunjukkan gejala kelainan seksual.

Efek pelecehan seksual

Banyak sekali pengaruh buruk yang ditimbulkan dari pelecehan seksual. Pada anak yang masih kecil dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll. Pada remaja, mungkin secara tidak diduga menyulut api, mencuri, melarikan diri dari rumah, mandi terus menerus, menarik diri dan menjadi pasif, menjadi agresif dengan teman kelompoknya, prestasi belajar menurun, terlibat kejahatan, penyalahgunaan obat atau alkohol, dsb.

Pengabaian anak

Pengabaian terhadap anak termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu segala ketiadaan perhatian yang memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Pengabaian anak banyak dilaporkan sebagai kasus terbesar dalam kasus penganiayaan terhadap anak dalam keluarga. Jenis-jenis pengabaian anak:

  • Pengabaian fisik merupakan kasus terbanyak. Misalnya keterlambatan mencari bantuan medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tidak tersedianya kebutuhan akan rasa aman dalam keluarga.
  • Pengabaian pendidikan terjadi ketika anak seakan-akan mendapat pendidikan yang sesuai padahal anak tidak dapat berprestasi secara optimal. Lama kelamaan hal ini dapat mengakibatkan prestasi sekolah yang semakin menurun.
  • Pengabaian secara emosi dapat terjadi misalnya ketika orang tua tidak menyadari kehadiran anak ketika ´ribut´ dengan pasangannya. Atau orang tua memberikan perlakuan dan kasih sayang yang berbeda diantara anak-anaknya.
  • Pengabaian fasilitas medis. Hal ini terjadi ketika orang tua gagal menyediakan layanan medis untuk anak meskipun secara finansial memadai. Dalam beberapa kasus orang tua memberi pengobatan tradisional terlebih dahulu, jika belum sembuh barulah kembali ke layanan dokter.

Efek pengabaian anak

Pengaruh yang paling terlihat adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak. Bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tidak memperoleh pengganti pengasuh yang memadai, akan mengembangkan perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab (Hurlock, 1990), dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi besar/kecil dampak yang diderita anak

Disamping segala bentuk penganiayaan yang dialami anak sebagaimana yang tercantum diatas, ada beberapa hal yang mempunyai andil dalam besar/kecilnya dampak yang diderita anak, antara lain:

  • Faktor usia anak. Semakin muda usia anak maka akan menimbulkan akibat yang lebih fatal.
  • Siapa yang terlibat. Jika yang melakukan penganiayaan adalah orang tua, ayah atau ibu tiri, atau anggota keluarga maka dampaknya akan lebih parah daripada yang melakukannya orang yang tidak dikenal.
  • Seberapa parah. Semakin sering dan semakin buruk perlakuan yang diterima anak akan memperburuk kondisi anak.
  • Berapa lama terjadi. Semakin lama kejadian berlangsung akan semakin meninggalkan trauma yang membekas pada diri anak.
  • Jika anak mengungkapkan penganiayaan yang dialaminya, dan menerima dukungan dari orang lain atau anggota keluarga yang dapat mencintai, mengasihi dan memperhatikannya maka kejadiannya tidak menjadi lebih parah sebagaimana jika anak justru tidak dipercaya atau disalahkan.
  • Tingkatan sosial ekonomi. Anak pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung lebih merasakan dampak negatif dari penganiayaan anak.

Dalam beberapa kasus anak-anak yang mengalami penganiayaan tidak menunjukkan gejala-gejala seperti diatas. Banyak faktor lain yang berpengaruh seperti seberapa kuat status mental anak, kemampuan anak mengatasi masalah dan penyesuaian diri. Ada kemungkinan anak tidak mau menceritakannya karena takut diancam, atau bahkan dia mencintai orang yang melakukan penganiyaan tersebut. Dalam hal ini anak biasanya menghindari adanya tindakan hukum yang akan menimpa orang-orang yang dicintainya, seperti orang tua, anggota keluarga atau pengasuh.

TINJAUAN PUSTAKA

Hopper, Jim. 2004. Child Abuse, Statistics, Research, and Resources.

Hurlock, Elizabeth. 1990. Developmental Psychology, A Life-Span Approach.

Nadia, Alva, dkk. 1991. Efektivitas Film Televisi terhadap Motif Berprestasi Anak, Laporan Penelitian.

Oleh: orangtuabijak | 8 Oktober, 2008

Otak Kanan vs Otak Kiri

Teori yang mutakhir mengenai struktur otak mengantarkan kita pada pemahaman bahwa terdapat dua sisi otak yang mengontrol dua cara berfikir yang berbeda. Setiap orang ternyata memiliki kecenderungan untuk lebih nyaman menggunakan satu sisi otak dibandingkan sisi otak yang lainnya.

OTAK KIRI

OTAK KANAN

Logika

Sistem simbol

Sekuensial

Rasional

Analitis

Obyektif

Melihat secara parsial

Kreatif

Sistem gambar

Random

Holistik

Intuitif

Subjektif

Melihat secara menyeluruh

Perbedaan cara berfikir antara otak kiri dan otak kanan secara umum adalah sebagai berikut:

Ketika mempelajari sesuatu, otak kiri akan memulai dari sesuatu yang detail untuk memperoleh gambaran besarnya. Kebalikannya, orang dominan otak kanan, berusaha untuk memperoleh gambaran besarnya, baru ditransformasikan menjadi detail-detail.

Dalam urutan proses merekam informasi juga terjadi perbedaan.

Orang yang dominan otak kiri cenderung untuk mengeksekusi suatu informasi, baru kemudian merekamnya dalam pikiran. Sedangkan orang yang dominan otak kanannya akan merekam dalam fikirannya terlebih dahulu, baru kemudian mengeksekusinya.

Karena urutan proses yang berbeda seperti itu, orang yang dominan otak kanannya sering dianggap agak lambat dalam berfikir, tapi bila mereka telah berhasil merekamnya, justru mereka akan jauh lebih cepat mengeksekusinya dibandingkan mereka yang dominan otak kirinya.

Oleh: orangtuabijak | 5 Oktober, 2008

Knowing or Learning?

“Knowing” is about finding the one right answer. “Learning” is a process of discovery. Which drives you, your school, your business, your family?

Is your school, family, or organization about knowing or learning?

A school, family, or organization that focuses on “knowing” will put the emphasis on measuring being right. The “knowing” culture requires that:

  • Some people know, some do not.
  • Those who know more are in charge.
  • Those in charge must keep some knowledge secret.
  • There is one right answer.
  • Authority comes from having the answer.
  • Challenging the answer means challenging authority.
  • There is not enough knowing to go around.
  • If everyone gets an “A,” there is a problem.
  • People demonstrate their excellence by showing they have memorized.
  • The authority decides if people have done well and rewards them.
  • Comfort is essential; confusion and challenge are in the way of learning.
  • Caring and emotions are only important because they help people know more.
  • The purpose of knowing is to demonstrate that knowledge and be acknowledged for it.
  • The ideal is perfection.

A system of learning focuses on growth. The emphasis is on measurable progress. The “learning” culture requires that:

  • No one knows exactly; there are many perspectives.
  • Those most committed to learning are in charge.
  • Those in charge must support others to learn as much as possible.
  • There are many right answers.
  • Authority comes from relationships.
  • Challenging the answer means success.
  • There is plenty of learning to go around.
  • If everyone gets an “A,” there is a success.
  • People demonstrate their excellence by challenging existing beliefs.
  • The authority supports people to recognize that they have done well, and they reward themselves.
  • Consistent comfort is of secondary importance; confusion and challenge are part of learning.
  • Caring and emotions essential because they are part of what we’re learning about.
  • The purpose of learning is to make a difference in the world.
  • The ideal is doing your best.

The “system of knowing” has a lot of appeal. It is simpler, more linear, we know what to believe, and ultimately one system can meet all the needs. On the other hand, it is inherently stagnant, dehumanizing (mechanistic), and stifles intrinsic motivation.

The “system of learning” has a lot of challenges. It is messy, controversial, the lack of certainty creates discomfort, and there must be hundreds of different systems to meet diverse and changing needs. On the other hand, it is inherently dynamic, self-improving, supportive of human interaction, and automatically builds lasting motivation.

What kind of system are you creating in your classroom, school, family,team, or company? What kinds of actions are you taking to ensure that system is living and functioning? Use the comment feature at the bottom of this page to tell the world!

Oleh: orangtuabijak | 5 Oktober, 2008

Di Jerman: Cuti Melahirkan 3 Tahun.

Peraturan Pemerintah Jerman mengatakan, setiap wanita yang menjadi pegawai Pemerintah, maksudnya pegawai negeri, punya hak untuk memperoleh cuti melahirkan yang lamanya … tiga tahun! Pada masa cuti tersebut, ia tetap punya hak untuk menerima gaji utuh. Selain itu, bila setelah cuti selesai dan ia kembali masuk kerja, dijamin posisinya tidak akan diberikan kepada orang lain.

Sementara itu, bagi wanita yang memang “rela” tidak bekerja di luar rumah, alias menjadi housewife, akan menerima tunjangan khusus. Tunjangan dimaksudkan untuk mencukupi keperluan si ibu dan bayinya. Hebatnya lagi, perlakuan istimewa itu juga berlaku bagi wanita warganegara asing yang kebetulan mempunyai anak balita. Darwinto, seorang penulis mengatakan: ”Keponakan saya yang mendapat beasiswa belajar di Jerman, mengajak istri dan anaknya yang baru berumur tiga tahun. Saat melapor pemberi beasiswa bertanya tentang anak-istrinya. Keponakan saya menjawab, anaknya masih balita dan istrinya memang berniat khusus mengasuh anaknya. Seketika pemberi beasiswa melapor ke Pemerintah Daerah, bulan berikut ia sudah menerima tunjangan khusus tersebut”.

Luar biasa! Itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah yang peduli terhadap pentingnya mempersiapkan generasi masa depan. Bagaimana pendapat Anda?

Oleh: orangtuabijak | 27 September, 2008

Kitakah Orangtua yang Bijak itu?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Saya sering merenung, sesungguhnya ketika kita memutuskan untuk menikah, apa sebetulnya yang sudah kita siapkan?… Apakah itu pekerjaan? uang? rumah? kendaraan? atau yang lainnya?

Poin yang ingin saya sampaikan adalah, apakah sebelum memutuskan untuk menikah kita sudah mempersiapkan diri dan mental kita untuk punya anak dengan seluruh permasalahan yang mengiringinya?  Saya sangat ingin menanyakan ini karena begitu banyak saya saksikan para orangtua yang pusing tujuh keliling dengan sesuatu yang dianggap sebagai “permasalahan” anak.   Benarkah itu permasalahan?

Seorang konselor keluarga pernah menceritakan, ada seorang ibu yang mengeluh kepadanya tentang anaknya yang pendiam, tidak banyak beraktivitas, tidak sama dengan anak-anak lainnya yang sangat aktif dan lincah.  Pada kali lain, ada ibu lain yang datang kepadanya dan mengeluhkan anaknya yang terlalu aktif dan “menyulitkan”.  Ia ingin anaknya tenang dan pendiam seperti anak yang lainnya.  Kalau begini, siapa yang salah? anaknya atau orangtuanya?

Think!

Kategori