Orang tua Atau Orangtua?
Ada kejadian lucu ketika saya memberikan seminar “Membuat Anak Ketagihan Belajar” di hadapan para orangtua dan guru di satu sekolah di Tangerang. Dalam satu slide saya tampilkan tulisan besar: “Orang tua”. Lalu saya tanyakan kepada audiens, “Siapa di antara kita yang saat ini sudah menjadi orang tua?”, dan dengan serta-merta dan penuh percaya diri seluruh audiens mengangkat tangan tinggi-tinggi! Tepuk tanganpun berkumandang dengan riuhnya sebagai apresiasi bagi semua audiens yang sudah berhasil menjadi “orang tua”.
Setelah tepuk tangan reda, saya tampilkan slide berikutnya dengan tulisan besar: “Orangtua”. Saya tanyakan lagi, “Sekarang, siapa diantara kita yang sudah menjadi orangtua?”. Bagaimana responnya? Sebagian bengong, sebagian saling pandang, sebagian senyum-senyum, sebagian lagi tertawa, ada juga yang matanya terus menatap saya dengan penuh selidik.
Tanpa berlama-lama, saya tampilkan lagi slide dengan tulisan “Orang tua” dengan gambar kakek-kakek dan nenek-nenek yang renta dan keriput, saya bilang: “Inilah orang tua itu!”, mereka tertawa dan sebagian mengangguk tanda setuju. Slide berikutnya adalah tulisan “orangtua” dengan gambar seorang ayah, seorang ibu, dan dua anaknya yang semuanya tertawa gembira. “Inilah orangtua!”.
Apa yang ingin saya tunjukkan dalam konsep “orang tua” dan “orangtua” itu? Sesungguhnya persoalannya bisa saja sederhana, seperti sederhananya cara penulisan kedua kata itu, tapi juga bisa menjadi rumit. Sederhananya, kata “orang tua” (berdasarkan pemahaman saya), adalah menunjukkan seseorang yang usianya sudah lanjut, rambut memutih, kulit keriput, gigi sudah banyak yang tanggal, mata rabun, dan mungkin… pikun!. Sedangkan, kata “orangtua” (masih juga berdasarkan pemahaman saya), menunjukkan orang-orang yang atas ijin Allah SWT menyebabkan kita lahir ke dunia ini atau orang-orang yang memiliki keterkaitan emosional yang dapat berperan sebagai orangtua.
Sekarang kita fokus kepada terma “orangtua”. Orangtua berarti suatu posisi dan juga berarti peran. Sebagai suatu posisi sangat jelas, orang yang kita sebut sebagai orangtua adalah seperti dalam pengertian sederhana di atas. Sedangkan sebagai peran, orangtua memiliki kompleksitas yang tinggi dan rumit berkaitan dengan tugas dan kewajibannya. Orangtua punya andil yang sangat besar dalam menentukan maju mundurnya suatu bangsa, bahkan terhadap suatu peradaban! Kenapa? Coba kita pikirkan, dari mana datangnya para koruptor yang tega menggasak uang negara yang di dalamnya ada hak-hak orang miskin? dari mana datangnya orang-orang pemarah yang tidak puas kalau jagonya kalah dalam Pilkada lalu mengamuk membabi-buta dan melukai orang lain? dari mana datangnya orang-orang seperti Ryan yang dengan sangat enjoy-nya membunuh orang lain? dari mana mereka-mereka itu datang? Jawabannya adalah: MEREKA DATANG DARI RUMAH!
Siapa yang in-charge di rumah? Jawabannya adalah: ORANGTUA!
Jadi, siapa bertanggung-jawab? Jawabannya adalah: ORANGTUA!
Saya bukan hendak menyalahkan orangtua kita atas segala perilaku buruk yang masih saja kita lakukan hingga saat ini, tetapi ingin mengingatkan kepada kita semua betapa peran kita sebagai orangtua saat ini menjadi begitu sentral dan sangat penting. Lihat saja, di TV ada film dan sinetron yang sangat-sangat tidak mendidik, di internet ada gambar-gambar vulgar yang bisa diakses kapan saja, di sekolah masih ada guru-guru yang tidak bisa memberikan tauladan, di lingkungan pergaulannya banyak perilaku dan kata-kata tidak pantas. Semuanya kondisi itu sedang berebut untuk mengambil peran dalam “mendidik” anak-anak kita. Jadi, mari kita rebut kembali peran kita dalam mendidik anak-anak kita!
===================================================
Mencerdaskan Anak Dengan ASI
Memberi ASI secara eksklusif dalam jangka panjang mempertajam pengembangan daya pikir anak.
Kasih ibu sepanjang masa. Ungkapan ini agaknya akan kian terbukti jika memiliki hasil penelitian terbaru mengenai air susu ibu (ASI). Penelitian ini kian menguatkan pendapat bahwa ASI ketika dewasa akan lebih cerdas dari bayi yang hanya diberikan susu formula.
Tim peneliti di Universitas McGill, Kanada, menemukan bahwa bayi yang mendapat ASI memiliki hasil lebih baik pada tes intelligent quotient (IQ) pada usia enam tahun. Tetapi para peneliti tidak yakin apakah hal itu disebabkan oleh air susu ibu itu sendiri atau dari kedekatan hubungan ibu dengan bayinya ketika menyusui.
Penelitian terhadap hampir 14 ribu anak ini adalah yang terbaru dari serangkaian laporan yang menemukan kaitan positif ASI dan kecerdasan. Studi terbaru ini memasukkan faktor kecerdasan dengan cara mengikuti perkembangan anak-anak yang lahir di sejumlah rumah sakit di Belarus, yang meluncurkan kampanye ASI.
Namun demikian, ada satu masalah yang dihadapi pada penelitian tersebut. Yaitu, kesulitan dalam menemukan apakah hasil itu terkait dengan kebiasaan menyusui di kalangan ibu dari keluarga yang lebih makmur dan apakah keadaan sebuah keluarga menjadi faktor sebenarnya yang menentukan pembentukan kecerdasan anak.
Menurut laporan Archives of General Psychiatry seperti dilansir BBC News, para ilmuwan asal Kanada itu menemukan fakta bahwa bayi-bayi yang diberi ASI saja selama tiga bulan pertama, walaupun banyak di antaranya juga mendapat ASI sampai 12 bulan, mencapai angka rata-rata 5,9 dalam tes IQ. Para guru juga menilai anak-anak itu memiliki kemampuan akademik lebih tinggi dalam membaca dan menulis, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapat ASI
Kepala penelitian itu Profesor Michael Kramer mengungkapkan, memberi ASI secara eksklusif dalam jangka panjang tampaknya mempertajam pengembangan daya pikir anak. ”Meski perbedaan itu terlihat, masih belum jelas apakah keuntungan yang kami amati dari ASI itu disebabkan oleh zat yang terdapat di dalam air susu ibu atau terkait dengan kedekatan hubungan fisik dan sosial antara ibu dan bayi dalam proses menyusui,” jelasnya.
Kandungan asam lemak (fatty acid) di dalam ASI selama ini diduga meningkatkan kecerdasan, tetapi laporan itu mengatakan aspek kedekatan fisik dan batin dalam proses menyusui mungkin mendorong perubahan permanen pada otak bayi yang sedang berkembang. Para peneliti juga mengatakan, menyusui bayi mungkin meningkatkan interaksi dengan kata-kata dari ibu ke anak, yang bisa membantu pengembangan kemampuan otak bayi. ”Pemberian ASI harus terus digiatkan,” tegasnya.
Tak hanya persoalan kecerdasan, selama ini pemberian ASI sebenarnya juga disebut-sebut memberikan gizi lengkap secara alami. Pasalnya, air susu ibu memberikan juga banyak keuntungan penting. Keseimbangan yang tepat antara protein, karbohidrat, lemak, dan mineral menyebabkan air susu ibu mudah dicerna, sehingga jarang sekali menimbulkan gangguan pencernaan seperti diare.
Di Inggris, pemerintah merekomendasikan para ibu untuk menyusui bayinya selama enam bulan pertama. Tetapi, penelitian itu memperlihatkan meski tiga perempat ibu pada awalnya memberikan ASI kepada bayinya, hanya satu dari empat ibu yang tetapi memberi ASI hingga enam bulan. Rosie Dodds, dari organisasi kesehatan anak dan bayi, National Childbirth Trust, mengatakan, penelitian tersebut sudah jelas menambah dan menguatkan bukti positif dari manfaat air susu ibu. ”Dan menurut saya, yang dibutuhkan sekarang adalah upaya lebih besar untuk mendukung program tersebut,” cetusnya.
Namun demikian, Dodds menyatakan, satu masalah yang dihadapi saat ini adalah sebagian penelitian yang telah dilakukan masih menghadapi kesulitan dalam menemukan apakah persoalan kecerdasan itu terkait dengan kebiasaan menyusui di kalangan ibu dari keluarga yang lebih makmur. Dan, apakah keadaan sebuah keluarga menjadi faktor sebenarnya yang menentukan pembentukan kecerdasan anak. (Gizi.net)
